JT - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan program School to Work Transition dirancang untuk menekan angka pengangguran muda.
"Program ini akan diselenggarakan secara masif dengan skema hybrid, dan diorkestrasi oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui 303 Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah serta 2.421 Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta," ujar Yassierli di Jakarta, Senin.
Baca juga : Mahkamah Agung: Sidang Etik Tiga Hakim PN Surabaya Masih Menunggu Proses Kasasi
Yassierli memperkenalkan program School to Work Transition yang akan digulirkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Program ini merupakan integrasi pelatihan dan pemagangan berskala nasional yang dirancang untuk menekan angka pengangguran muda.
Skema School to Work Transition menyasar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mengingat tingkat pengangguran tertinggi berada pada kelompok usia 19–24 tahun.
Data juga menunjukkan bahwa lulusan SMK memiliki proporsi pengangguran terbesar dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Selain itu, terjadi mismatch antara jurusan pendidikan dengan kebutuhan industri, di mana beberapa jurusan memiliki tingkat pengangguran di atas rata-rata.
Baca juga : Ketua Komisi III DPR RI Sebut Isu Partai Cokelat pada Pilkada 2024 Hoaks
Lebih lanjut, Yassierli mengatakan bahwa fokus program ini mencakup pengembangan skill set masa depan seperti elektronika industri, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI), terintegrasi dengan pelatihan soft skill, bahasa asing, dan kewirausahaan, serta bertujuan mengatasi ketimpangan dan mismatch dengan kebutuhan industri.
Adapun tema prioritas dalam program ini meliputi smart operation, smart creative IT skills, agroforestry, dan green jobs. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dalam pelaksanaan program tersebut.
Bagikan